RSS

misTEriiii ruMahhh HAntuuu pondok INdah bintaRo di daerah tanggerangggg!!!!!!!

Beberapa tahun lalu ingatan kita mungkin masih ingat kepada misteri hantu yang terjadi di rumah hantu pondok indah di Tangerang, Jakarta Selatan, dimana terjadi keanehan pada pondok atau lebih tepatnya gedung berlantai 12. Gedung tersebut berada di depan RS International Bintaro.
Keanehan tersebut tersirat oleh enam satpam yang masih menjaga gedung tersebut. Menurut mereka, mereka mendengar suara-suara aneh seperti suara wanita tertawa dari dalam gedung. Kejadian tersebut biasa mereka dengar setelah pukul 23.00 WIB. Suara seram tersebut akan hilang ketika para satpam mencari arah suara tersebut.
Di samping itu mereka juga merasakan hal yang aneh seolah-olah merasakan adanya orang, atau makhluk halus di gedung tak berpenghuni tersebut. Gedung tersebut terbengkalai karena krisis di tahun 1997.
Di samping itu, gedung tersebut diduga melewati prosedur yang ada. Karena, sesuai konstruksi seharusnya bangunan tersebut maksimal berlantai 17. Akan tetapi, kenyataannya gedung tersebut berlantai 24. Sehingga, jika kita lihat pondasi bangunan ambles karena tidak kuat menahan beban. Dari kejadian ini dapat kita simpulkan bahwa memang benar jika suatu tempat atau bangunan tidak dihuni dalam jangka yang lama, maka kemungkinan akan bersarangnya makhluk halus dan lain-lain.
Tidak adanya kegiatan seperti mati adalah tempat bagi mereka. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga tempat tinggal kita tetap hidup. Tentunya dihidupkan dengan kegiatan yang positif, seperti mengaji, belajar, berdoa dan sebagainya.

sumber:
http://hantuhantu.com

The Adjective Clause,,,,,

Recognize an adjective clause when you see one.

An adjective clause—also called an adjectival or relative clause—will meet three requirements:
  • Finally, it will function as an adjective, answering the questions What kind? How many? or Which one?
The adjective clause will follow one of these two patterns:
relative pronoun or adverb + subject + verb
relative pronoun as subject + verb
Here are some examples:
Whose big, brown eyes pleaded for another cookie
Whose = relative pronoun; eyes = subject; pleaded = verb.
Why Fred cannot stand sitting across from his sister Melanie
Why = relative adverb; Fred = subject; can stand = verb [not, an adverb, is not officially part of the verb].
That bounced across the kitchen floor
That = relative pronoun functioning as subject; bounced = verb.
Who hiccupped for seven hours afterward
Who = relative pronoun functioning as subject; hiccupped = verb
example Relative Pronoun

Yaitu Adjective Clause dengan memakai kata penghubung Relative Pronoun.
  • The boy is called Bob. He gave me a present.The boy who gave me a present is called Bob. atau The boy who is called Bob gave me a present.
Beberapa contoh Adjective Clause lainnya:
  • The boy whose radio was stolen is a student.
  • The girl whom I gave a special reward is a bright student.
  • The bike which I borrowed last week was sold.
example Relative Adverb
  • kata Why (yang menunjukkan alasan) yang menjadi Adverb penghubung, mungkin (kadang-kadang) dapat digantikan dengan that atau kadang-kadang dapat dihilangkan dalam kalimat.

  • - The reason (that) I came should be obvious to you.
    - The reason (why) I came should be obvious to you.
    - The reason I came should be obvious to you.
  • When atau Where Bering dapat Baling ditukarkan dengan Preposition yang menunjukkan tempat (a preposition of Place) ditambah dengan Which.

    - The small town in which (= where) I was born has grown to a large metropolis.
    - The day on which (= when) they were to leave finally arrived.
Kadang-kadang that dapat menggantikan where atau when.
  • The day that (or when, on which) the trial was to take place was a stormy one.
  • Please suggest a good place that (or where) we can meet


sumBER :
http://www.chompchomp.com
http://ismailmidi.com

merpaTiii leBihhh cPattt DR pos

Merpati terbukti lebih gesit dan cepat dalam pengiriman ekspres, saat jasa pengiriman lain menyerah karena lokasi yang sangat terpencil.
Sebagai bukti, burung-burung merpati dari wilayah Chache La Poudre digunakan untuk membawa kartu memori berisi berbagai data untuk menuju ke kota Fort Collins, Colorado, Amerika Serikat (AS).
Kartu memori itu beratnya hanya beberapa gram tapi mampu memuat data digital dalam jumlah besar. Caranya, kartu memori berukuran mungil tersebut ditempatkan di tas kain kecil yang dilekatkan di punggung burung merpati.
Merpati-merpati itu lantas dilepaskan dan terbang menyusuri Sungai Cache La Poudre dan menuju tempat yang telah mereka kenali. Merpati itu mampu terbang hingga tiba di lokasi tujuan sepanjang 30 mil dalam waktu 20 menit.
Jika menggunakan transportasi darat, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama karena medannya berupa pegunungan dan harus menyusuri sungai. Sejak dulu kala, "merpati ekspres" memang telah menjadi solusi dalam pengiriman data penting di lokasi yang sulit di terjangkau sarana transportasi darat. Bahkan, penggunaan merpati ini telah ada sebelum penemuan telegram.
Jasa merpati terbukti tetap dibutuhkan meskipun saat ini telah marak penggunaan internet untuk pengiriman pesan.
Memang tak mudah untuk menjadikan burung-burung merpati sebagai "pak pos". Mereka perlu dilatih untuk dapat bekerja profesional layaknya para pegawai pos. Salah satu perusahaan yang melayani jasa pengiriman dengan merpati pos ialah Rocky Mountain Adventures. Perusahaan itu memiliki 19 burung merpati yang terbang lima kali dalam sehari. Umumnya, mereka terbang dengan jarak tempuh 20 hingga 40 mil.
"Kita memulai pengiriman data dengan burung merpati karena itu satu-satunya solusi atas permasalahan yang dihadapi untuk pengiriman data antara La Poudre dengan markas kita di Fort Collins yang jaraknya 30 mil," ungkap David Costlow, pimpinan pelatih merpati pos di Rocky Mountain Adventures.
Costlow menegaskan, "Awalnya kami menggunakan burung elang, tapi akhirnya kami memilih burung merpati. Bisa kita klaim bahwa kita adalah pelayanan pengiriman pos satu-satunya yang menggunakan burung merpati di dunia."
Melalui kajian dan penelitian mendalam, Costlow akhirnya memilih burung-burung merpati yang biasa diikutkan dalam lomba di dekat Greeley, AS. Kemudian, dia meneliti apakah burung tersebut dapat terbang cepat dan tepat hingga ke tujuan. Dia pun bertemu dengan para peternak burung merpati tersebut di Fort Collins. Selanjutnya, Costlow melatih anak-anak merpati secara intensif.
Dibutuhkan waktu selama tujuh bulan dan satu tahun pelatihan intensif untuk menjadikan anakanak merpati tersebut menjadi "pak pos" yang handal dan terlatih. Hasilnya, burung-burung merpati tersebut memiliki kemampuan terbang yang handal dan tepat menuju tujuan, lebih cepat dibandingkan elang.

sumber: http://arsipberita.com

danaou Toba yang TERANcam kering,,,



 Ini adalah salah satu ikon yang paling dikenal dunia dari Sumatera Utara? Pasti kalian tahu jawabnya adalah Danau Toba. Semua wisatawan yang pernah berkunjung ke Sumatera Utara biasanya akan sangat familiar dengan nama itu. Mereka bahkan sangat menyesal kalau belum mengunjungi Danau Toba kalau sedang berada di Sumatera Utara atau Indonesia.
Tetapi tahukah kita semua bahwa Danau Toba sekarang terancam hilang. Danau terbesar di Asia Tenggara itu berada dalam keadaan nestapa karena dua hal: sumber airnya berkurang, dan kandungan airnya salah urus.
Sumber air Danau Toba berasal dari tangkapan air di sekitarnya. Bertahun-tahun, bentukan palung hasil kekuatan dari letusan jutaan tahun yang lalu itu menampung air yang mengalir di sekitarnya. Itulah yang terjadi terus menerus dan menciptakan danau. Tetapi berdasarkan citra satelit yang terus menerus di up date, pinggiran Danau Toba kini kering kerontang. Akar pohon yang mengikat dan menahan airnya, kini semakin menipis dan menyebabkan air danau berkurang pemasukannya.
Kualitas airnya sendiri kini juga semakin menurun. Banyaknya tambak dan sampah menjadikan Danau Toba sebagai ”tempat sampah” terbesar. Perilaku masyarakat plus para pengusaha yang berada di kawasan Danau Toba menyebabkan mereka yang berkunjung ke sana sering tidak merasa nyaman.
Tetapi kalau mau dicari sumber masalah pokoknya, tentunya bisa dilihat pada pemerintah daerah sendiri. Ada kesan bahwa Danau Toba dibiarkan menjadi ”danau” saja. Tidak perlu dilakukan apa-apa karena dianggap dengan sendirinya akan demikian adanya. Padahal kalau dibandingkan dengan daerah lain atau negara lain, danau adalah sumber pemasukan yang begitu besar secara khusus dalam mendatangkan devisa melalui kedatangan para wisatawan..
Pengembangan Danau Toba butuh komitmen. Perlu ada sharing perhatian dari daerah yang berada di kawasan tersebut dengan pemerintah pusat dan daerah. Tanpa kerjasama yang baik maka Danau Toba akan semakin kering dan akan ditinggalkan. Padahal Danau Toba adalah salah satu ikon penting dari Sumatera Utara.
Pemerintah juga harus lebih mendorong masyarakat supaya mereka bisa menjadikan Danau Toba sebagai warisan budaya mereka yang harus mereka jaga dan pelihara. Bertahannya budaya dan tradisi kaum tertinggal di beberapa negara karena mereka menjadikannya sebagai tanggung-jawab terhadap nenek moyang sekaligus warisan terhadap anak cucu.

sumbar" http://hariansib.com